Entertainment Nasional Trendings

Bangunan Berdekorasi Simalungun Ini dinilai Hanya Pajangan

Ada pengerjaan bangunan berdekorasi Simalungun di sebuah perempatan jalan menjadi pusat perhatian. Selain dianggap pemborosan anggaran, muncul keraguan jika nilai kebudayaan maupun pesan yang terkandung didalamnya asal dibuat.

Salah satu bangunan berdekorasi Simalungun, yang masih proses pengerjaan ditemui di perempatan Jalan Ahmad Yani-Jalan Medan dan Jalan Sisingamangaraja- Jalan Ulakma Sinaga, percis di trafict light menuju Kota Pematangsiantar.

Meski penampakan bangunan belum seluruhnya rampung, terlihat sekilas dari dekorasi bangunan ada yang dianggap tak layak dari sudut pandang kebudayaan khususnya etnis Simalungun.

“Di bangunan itu ada tulisan Raja Sang Naualuh. Ada ‘Poda Sang Naualuh’ dibangunan itu. Seharusnya kata ‘Podah’. Yang kami lihat itu sengaja untuk menghilangkan bahasa Simalungun,” ujar Lisman Saragih, Jumat (13/12/2019).

Ketua Ikatan Keluarga Islam Simalungun [IKEIS] ini menilai, penempatan tulisan podah atau pesan-pesan Raja Sang Naualuh dibangunan itu dinilai tidak pantas melekat di bangunan tersebut.

“Poda Sang Naualuh tidak pantas dibuat kalau patungnya Ayam. Seharusnya jika dituliskan pesan-pesan Sang Naualuh dibuat tersendiri, atau lebih tepatnya pada monumen Sang Naualuh,” jelas Lisman.

Baca juga: Kadim Damanik: Mereka Memang Sudah Mengabaikan Budaya Dan Sejarah

Pada bangunan berbentuk bundar itu, terpahat kalimat yang bertuliskan Raja Sang Naualuh dengan 8 point pesan-pesan. Meski begitu, tidak monumen Raja Sang Naualuh akan diposisikan dibangunan tersebut.

“Saya kira itu sudah lama, yang disebelah kanan Boras Pati, yang sebelah kiri untuk Dayok Mira,” kata Kadis PRKP, Reiward Simanjuntak dihubungi Senin kemarin.

Disinggung mengapa ada penembahan terhadap nama Raja Sang Nauluh, Reinward menegaskan jika pembangunan Tugu Sang Naualuh bukan kewenangan pihaknya.

“Tugu Sang Naualuh itu sudah beda panitia-nya. Bukan Tarukim [Dinas PRKP],” ucapnya.

Penambahan tulisan Raja Sang Naualuh dibangunan itu menjadi perhatian warga Pematangsiantar. Apalagi diketahui sejauh ini pembangunan Tugu Sang Naualuh di Lapangan Adam Malik sudah satu tahun dihentikan.

Salah seorang warga yang ditemui tak jauh dari lokasi proyek pembangunan itu berkomentar, jika banyak ditemui bangunan di Pematangsiantar yang akhirnya hanya jadi pajangan.

“Bangunan kek gini cuma jadi pajangannya. Kalau di lihat anak-anak kita tanpa ada penjelasan dan penjabaran nilai historinya kan gak ada juga gunanya,” kata Pria berkacama ini ditemui, Jumat Siang.

Meski berkomentar demikian, ia menyarankan agar Pemko Pematangsiantar sebaiknya menyiapkan pelajaran ekstra kulikuler kebudayaan dan sejarah Pematangsiantar pada pelajaran Sekolah Dasar [SD].

“Lebih baik lah nilai-nilai kebudayaan seperti budaya Simalungun seperti ini dimasukkan ke pelajar tambahan di Sekolah Dasar. Dari pada dibuat bangunan monumen, habis anggaran,” tukasnya.