Kriminal Nasional Trendings

Akhir Pelarian Pembunuh Janda Pemilik Warung Kopi di Surabaya

Selama dua tahun, polisi terus memburu seorang pelaku pembunuhan wanita bernama Suwarti, pemilik warung di Lakarsatri pada September 2017 silam. Perburuan tersebut usai dilakukan ketika peluru milik Unit Resmob Satreskrim Polrestabes Surabaya diletuskan tepat bagian dada Andi Prasojo (36) warga Surabaya.

Otak pelaku sadis pembunuhan korban Suwarti ini ditangkap setelah kedapatan berada di Surabaya.

“Terpaksa kami lakukan tembakan tegas terukur (ditembak mati), saat ditangkap pelaku berusaha menyerang petugas dengan menggunakan senjata penghabisan,” ujar Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Sandi Nugroho di Kamar Mayat Dr. soetomo, Jumat (27/12).

Sandi memaparkan, sebelum melakukan tindakan tegas terukur, petugas memberikan tembakan peringatan namun tidak digubris pelaku.

Dari tangan pelaku, polisi menyita barang bukti berupa sebilah sajam, satu tas selempang warna hitam, dan satu tiket bus tujuan Jakarta-Surabaya.

Dia menjelaskan, sebelumnya petugas sudah menangkap terlebih dahulu pelaku pembunuhan terhadap Suwarti (55), warga Karangan, Wiyung, Surabaya.

Mereka bernama adalah M Rifai (33), warga Jalan Tinalan IV, Kediri yang juga tinggal di Jalan Bagong Ginayan, Gubeng, Surabaya dan Arma Widiantara (34), warga Pucang Kerep, Pucang Sewu Surabaya.

Dari catatan polisi, Andi Prasojo merupakan seorang residivis sejumlah kasus kriminal. Pada tahun 2016, Andi terjerat kasus kepemilikan senjata tajam yang ditangani Polsek Gubeng. Kemudian pada tanggal 31 Agustus (2017) di Lakarsantri pelaku mengotaki pembunuhan pemilik warung kopi di Lakarsantri.

Selanjutnya, tertangkap di Polsek Simokerto dengan perkara kasus narkoba. Dan yang terakhir merampas HP di Jakarta dan dikurung selama 10 bulan.

Sandi menambahkan, dari tangan pelaku petugas juga mendapati ada tiga buah Kartu Tanda Penduduk (KTP) dengan nama yang berbeda yakni nama Riandi Prastawan, Slamet Handoyo dan Andik Prasojo. KTP tersebut diduga palsu.

“Pelaku tersebut terkenal cerdik dan licik, karena setiap beraksi selalu memalsukan identitasnya sehingga berusaha mengelabuhi petugas,” ungkap Sandi.