Daerah Ekonomi Trendings

Hasil Tangkapan Menurun, Harga Ikan Laut di Agam Naik

Curah hujan tinggi disertai angin kencang yang melanda kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) sekitarnya beberapa bulan terakhir menyurutkan niat nelayan di Kecamatan Tanjung Mutiara untuk melaut.

Hingga pertengahan Januari 2020 ini, sebagian besar pencari rizki di air asin ini memutuskan untuk memperbaiki kapal dan alat tangkap serta untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka memilih kerja serabutan hingga kondisi cuaca normal kembali.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Agam, Arman Aciak mengatakan, kondisi tersebut sudah dirasakan para pencari ikan setidaknya 3 bulan terakhir. “Biasalah, sesuai iklim kan saat ini sedang musim hujan, untuk nelayan pancing kondisi ini sangat tidak menguntungkan jika dipaksakan melaut hasilnya juga tidak memuaskan,” ujarnya saat di konfirmasi Covesia.com, Senin (20/1/2020).

Lain halnya dengan nelayan yang menggunakan kapal besar dan alat tangkap jaring, kondisi cuaca itu tidak terlalu menjadi penghalang dalam mencari ikan, meskipun hasinya berkurang namun bisa dikatakan tidak merugi. “Nelayan bagan atau menangkap ikan menggunakan jaring kan berlayar ke laut lepas, tentu hasil ikan lebih banyak,” tutur Arman.

Kurangnya hasil tangkapan ikan juga berpengaruh kepada harga ikan laut di pasaran, salah seorang pedagang ikan laut di pasar tradisional di Kecamatan Lubuk Basung, Hadi (35) menjelaskan, saat ini untuk ikan jenis tongkol dijual Rp 60 Ribu/Kg harga tersebut naik sebesar Rp 15 ribu semenjak dua bulan terakhir.

Kenaikan harga juga terjadi pada jenis ikan laut lainnya yaitu berkisar Rp 5 ribu hingga Rp 10Ribu /Kilo. “Stock ikan segar berkurang, jadi harus kita datangkan dari Air Bangis pasaman dan Sumatera Utara, tentunya butuh biaya yang lebih besar, jadi kita juga menaikkan harga jual ikan,” terangnya.