Internasional Kriminal Trendings

Militer Myanmar Diduga Membunuh 2 Muslimah Rohingya Gunakan Persenjataan Berat

Dua muslimah Rohingya tewas dan tujuh lainnya terluka akibat tembakan persenjataan berat militer Myanmar.

Peristiwa ini terjadi hanya beberapa hari setelah Pengadilan Internasional di Den Haag, Belanda, memerintahkan Myanmar untuk melindungi muslim Rohingya di Negara Bagian Rakhine. Gugatan disampaikan Gambia, negara di Afrika Barat berpenduduk mayoritas muslim, mewakili 57 negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).

Militer Myanmar dan kelompok milisi Tentara Arakan saling menyalahkan mengenai serangan tersebut.

Juru bicara militer Zaw Min Tun, seperti dikutip dari AFP, Sabtu (25/1/2020), mengatakan kedua perempuan itu tewas akibat tembakan persenjataan berat milisi. Seorang perempuan tewas di lokasi dan seorang lainnya mengembuskan napas terakhir setelah tiba di rumah sakit di Rakhine.

Namun juru bicara Tentara Arakan mengatakan tidak ada pertempuran di daerah itu dan mereka menuduh militer membuat berita palsu.

Awal bulan ini empat anak-anak etnis Rohingya terbunuh dan lima lainnya terluka bersama guru mereka setelah terkena ledakan saat mencari kayu bakar.

Kekerasn militer yang digambarkan oleh penyelidik HAM PBB sebagai upaya genosida pada 2017 memaksa lebih dari 740.000 muslim Rohingya eksodus ke Banglades. Saat ini ratusan ribu lainnya masih berada di Rakhine, tinggal dalam ketakutan dan pembatasan aktivitas.

Dalam putusannya pada Kamis lalu, hakim Pengadilan Internasional memerintahkan Myanmar segera mengambil semua langkah untuk mencegah tindakan-tindakan sebagaimana disebutkan dalam Konvensi Genosida PBB Tahun 1948.

Tindakan-tindakan tersebut termasuk membunuh anggota kelompok etnis dan dengan sengaja menghancurkan fisik secara keseluruhan atau sebagian.

Pengadilan juga memerintahkan Myanmar untuk melaporkan kembali dalam waktu 4 bulan, dan setelah itu setiap 6 bulan.