Kesehatan Trendings

Peneliti Ungkap Perubahan Iklim Sebabkan Penyakit Keracunan Makanan

Satu hal yang saya sukai dari bepergian keliling Meksiko adalah ketersediaan toilet di berbagai tempat.

Anda akan dikenakan biaya lima peso (sekitar Rp350), tapi itu adalah tergolong murah untuk sedikit tisu toilet, kursi toilet yang bersih, dan ketenangan pikiran.

Tapi yang tidak saya ketahui ketika saya menjelajahi kota Oaxaca, Mei 2019, saat menghabiskan beberapa peso untuk beberapa kali bolak-balik kamar mandi, adalah bahwa saya menderita keracunan makanan yang tak biasa.

Sekitar 12 jam setelah merasakan mual yang luar biasa, saat saya sedang duduk sendirian di kamar sewaan saya, rasa kebas di jari-jari tangan dan kaki saya merangkak ke pergelangan tangan dan kaki.

Kesemutan yang aneh itu terasa seolah-olah saya terbangun dalam posisi yang aneh dan tangan dan kaki saya tertidur — hanya saja alih-alih secara bertahap membaik dan kembali normal, rasa mati rasa itu terus berlanjut.

Penyebabnya, saya akhirnya tahu, adalah ciguatera: jenis keracunan makanan yang diakibatkan racun pada jenis ikan tertentu.

Penderitaan akibat penyakit ini berlangsung selama 12 jam dan efeknya bisa dirasakan selama berbulan-bulan dan kadang-kadang bertahun-tahun.

Tidak ada cara untuk melakukan pemeriksaan pada ikan yang mengandung racun itu dan belum ada obatnya.

Keracunan ini mungkin akan jauh lebih umum, seiring perubahan iklim menghangatkan lautan dan menyebabkan lebih banyak badai, dan lebih luas ketika lebih banyak ikan diekspor ke seluruh dunia.

Menurut Dr Mindy Richlen, peneliti di Woods Hole Oceanographic Institution, keracunan ciguatera disebabkan memakan ikan yang terkontaminasi ciguatoxin, yang berasal dari dinoflagelata tropis (organisme sel tunggal) yang hidup dalam mikroalga yang banyak tumbuh di karang mati.

Penjelasan yang lebih sederhana: terumbu karang yang mati menumbuhkan makanan ikan yang terinfeksi kuman. Manusia jatuh sakit ketika memakan ikan yang memakannya.

Meskipun ciguatera awalnya tampak seperti keracunan makanan biasa, ia berubah menjadi mati rasa di jari tangan dan kaki yang dirasakan berulang selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, dan kadang-kadang menyebabkan pergantian sensasi panas dan dingin.

Meskipun peningkatan suhu laut dan fenomena cuaca membuat ciguatera menjadi perhatian, racun ini sangat umum dan telah ada sejak lama.

Bahkan pada abad ke-4 SM, Alexander Agung diduga melarang tentaranya makan ikan karena penyakit yang dianggap sebagai ciguatera.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyatakan bahwa sekitar 50 ribu kasus keracunan ciguatera dilaporkan setiap tahun di seluruh dunia.

Meski begitu, tidak ada yang benar-benar tahu betapa lazimnya jenis keracunan ini. Seperti saya, banyak orang tidak merasakannya setelah mereka mengonsumsi ikan.

Plus, satu-satunya cara untuk memastikan apakah ikan tersebut terkontaminasi adalah dengan mengujinya di laboratorium.

Ciguatera disebut menyebabkan sejumlah kecil kematian selama bertahun-tahun – sebagian besar karena komplikasi yang disebabkan efek racun pada sistem syaraf dan pencernaan – tetapi jarang fatal.

Ciguatera sering diabaikan,” kata Richlen. “Jika Anda membaca dalam literatur, akan ada perkiraan kasar seperti ’50 hingga 500.000 orang diracuni per tahun,’” karena sulit untuk benar-benar tahu siapa yang menderitanya.

Ikan yang membawa ciguatoxin tidak terlihat berbeda; tidak ada cara yang bisa dilakukan untuk menguji ikan untuk itu; dan memasak atau membekukan ikan tidak akan membunuhnya.

Juga tidak ada obat atau penawar racun yang diketahui untuk ciguatera.

Menurut Richlen, kurangnya informasi tentang ikan yang membuat saya sakit menyoroti salah satu masalah terbesar dengan ciguatera.

“Dengan meningkatnya ekspor ikan di seluruh dunia, banyak orang bisa terkena penyakit ini di tempat-tempat yang terkurung daratan seperti kawasan barat AS,” katanya.

Richlen merujuk wabah pada tahun 2004 di pasar ikan Hong Kong yang disebabkan dari Pasifik Selatan.

Menurut PBB, dari tahun 1976 hingga 2016, jumlah makanan laut yang diekspor ke seluruh dunia untuk konsumsi manusia tumbuh sebesar 514%, dan diproyeksikan akan tumbuh 24% lagi pada tahun 2030.

Peneliti lain yang meneliti ciguatera di Universitas Florida Gulf Coast, Mike Parsons, menyebutkan bahwa ia mendapat telepon dari seorang pengacara yang kliennya terkena ciguatera karena makan ikan barakuda di New York.

Parsons juga percaya bahwa area tempat orang terkena ciguatera berubah karena alasan lain, yaitu perubahan iklim.

“Saya pikir orang akan menangkap ikan beracun di daerah ciguatera tidak lazim sebelumnya.”

Richlen dan Parsons menjelaskan bahwa pemanasan suhu lautan telah mengubah kisaran tempat ciguatera tumbuh: air telah menjadi terlalu hangat bagi dinoflagelata beracun untuk tumbuh di tempat-tempat biasa, sementara mereka lancar berkembang biak di tempat-tempat jauh di utara yang dulunya terlalu dingin.

Di tempat seperti Teluk Meksiko, kata Parsons, dinoflagelata tropis dan subtropis dulu mati di musim dingin, tetapi sekarang mereka bertahan dan berkembang biak sepanjang tahun.

Namun, elemen lain dari pertumbuhan ciguatera adalah bidang keahlian spesifik Parsons: hubungan antara prevalensi ciguatoxin (dan kehidupan laut yang membawanya) dan kerusakan terumbu karang.

Apakah karena pemutihan, peningkatan aktivitas badai atau degradasi karang dari aktivitas manusia, ia mengatakan, “Saya memperkirakan ciguatera akan semakin lazin seiring kesehatan terumbu karang menurun.”

Saat ini, ia membandingkan distribusi dinoflagellata beracun di daerah Bahama yang terkena dan terhindar oleh Badai Dorian pada bulan Agustus.

Meskipun penelitian tentang ciguatoxin terus dilakukan, masih belum ada banyak informasi yang bisa diandalkan tentang mengapa terumbu mati membiakkan mereka.

Menurut Richlen, dinoflagellata hidup pada sejenis ganggang yang tumbuh subur di terumbu karang mati, dan ganggang ini adalah makanan yang disukai banyak ikan karang.

Dalam 30 tahun terakhir, 50% dari seluruh karang di dunia mati, sebagian besar karena perubahan iklim, dan beberapa prediksi mengatakan 90% akan mati dalam satu abad berikutnya.

Sebagai seseorang yang bepergian di banyak daerah tempat ciguatera endemik, saya bertanya kepada Richlen dan Parsons apa yang harus dihindari saat bepergian demi mencegah terkena ciguatera.

Keduanya segera menyebut ikan barakuda, penyebab utama ciguatera karena memakan ikan karang yang lebih kecil dan terkontaminasi. Tetapi Richlen merekomendasikan untuk tidak makan ikan karang, secara umum, seperti kakap dan kerapu.

“Terumbu karang berada di bawah banyak tekanan dari berbagai sumber, termasuk penangkapan ikan yang berlebihan. Saya mungkin akan melewatkannya karena berbagai alasan, “katanya.

Parsons mengatakan bahwa dia tahu tentang tempat peristirahatan di St Thomas dan St Croix, di antara pulau-pulau lain, yang sejauh ini mengimpor ikan mereka.

“Mereka tidak akan menggunakan ikan lokal karena mereka tidak percaya, mereka tidak ingin klien mereka sakit.”

Dia juga mencatat bahwa ikan yang lebih besar cenderung menumpuk racun yang membawa penyakit, sehingga ikan yang lebih kecil cenderung lebih aman untuk dimakan.

“Yang penting adalah mengetahui ikan apa yang Anda makan dan di mana ikan itu ditangkap dan mengetahui ikan apa di daerah itu yang bisa menyebabkan ciguatera,” katanya.

Richlen mengirimi saya beberapa poster dari seluruh dunia yang memperingatkan publik tentang ikan yang bermasalah, seperti sweetlips raksasa di Fiji atau jack kuning di Guadeloupe, dan Parsons menyarankan untuk berbicara dengan nelayan setempat tentang ikan mana yang aman karena mereka akan tahu yang terbaik.

Hampir delapan bulan kemudian, keracunan saya masih kambuh. Saya tidak lagi khawatir tangan saya lumpuh secara permanen atau mungkin berakibat fatal, seperti yang saya alami pada hari pertama.

Sebaliknya, saya mentertawakan keracunan ikan aneh ini seraya belajar betapa sedikit yang kita tahu tentang apa yang kita konsumsi, terutama saat bepergian.