Nasional Trendings

Dalam Sidang, dr Benny Ungkap Kondisi Keuangan PT SON

Medan – Direktur PT Sari Opal Nutriton (SON) dr Benny Hermanto mengungkap posisi keuangan perusahaan pada saat itu sedang menginvetarisir laporan keuangan tentanf pemasukan dan pengeluaran dari seluruh kegiatan perusahaan atau Cash Flow.

Hal ini disampaikan dr Benny saat didengarkan keterangan sebagai terdakwa dalam sidang lanjutan yang berlangsung di Cakra VII, Pengadilan Negeri Medan, Rabu (19/02).

dr Benny yang ‘diserang’ pertanyaan oleh dua penuntut umum Joice Sinaga dan Artha Sihombing, menjawab seluruh pertanyaan sekaitan bisnis kopinya dengan Direktur PT Opal Coffee Indonesia (OCI), Surya Pranoto.

Dikatakannya, bahwa hubungan bisnisnya sudah berlangsung lama semenjak 2002, silam. Seharusnya ini menjadi pertimbangan karena selama ini hubungan bisnis tersebut lancar dan tidak ada permasalahan.

Hanya saja, pada Juli 2018 kemarin stafnya dibagian keuangan melaporkan tentang masalah keuangan kepada dirinya. Namun demikian dari lima belas Invoice dua diantaranya sudah dibayarkan PT SON kepada PT OCI.

Masih menurutnya dalam persidangan ia juga membantah keterangan di BAP saat diperiksa penyidik Polrestabes Medan. Dengan tegas ia juga memaparkan selaku pimpinan di PT SON, sama sekali tidak berniat untuk membayar 13 dari 15 invoice yang tertunggak.

“Waktu itu perusahaan kami dalam kondisi Cash Flow. Jadi waktu itu pembayaran Purchase Order (PO) ke PT OCI di-hold. Artinya dipending sementara. Bukan tidak mau bayar. Karena saya masih ada urusan dengan pak Surya,” urainya menjawab pertanyaan Joice soal kondisi finansial perusahaan terdakwa Juli 2018.

Terdakwa juga meminta tim JPU bersabar mendengarkan penjelasannya. “Peristiwa ini kan satu kesatuan. Perlu saya jelaskan duduk permasalahannya. Karena bisnis jual beli kopi ini akan berlangsung lama saya dan pak Surya ada membuat perjanjian namanya platform kredit,” timpalnya.

Platform kredit dimaksud yakni mengenai jumlah kredit (nilai barang yang dipesan) dan berapa lama (waktu pembayaran ke PT OCI). Namun setahu bagaimana platform kredit yang telah mereka sepakati secara sepihak ‘ditabrak’ saksi korban. Dari semula Rp1 miliar menjadi Rp200 juta.

Perjanjian limit waktu pembayaran dari 90 hari menjadi 45 hari berdampak langsung pada roda finansial PT SON. By phone (teleponan), lanjut dr Benny, dirinya manyampaikan komplain kepada Surya.

“Bagaimana saya bisa menjalankan bisnis kalau platformnya demikian. Sebelumnya di masa mediasi saya juga menawarkan agar barang yang terlanjur diterima dikembalikan namun oleh kuasa hukum pak Surya mengatakan tidak setuju. Di mana letak kebohongannya?” urai dr Benny ketika menjawab pertanyaan ketua tim penasihat hukumnya (PH) Muara Karta Simatupang.

Atas permintaan majelis hakim diketuai T Oyong, terdakwa didampingi Muara Karta Simatupang bersama JPU menyaksikan bukti perjanjian platform antara terdakwa dengan saksi korban Surya Pranoto.

Untuk itu, pada persidangan berikutnya pada Rabu (26/02), Ketua Majelis Hakim T Oyong meminta terdakwa menunjukan bukti-bukti dalam perjanjian bisnis termasuk tentang kondisi laporan keuangan (cash flow) kepada majelis hakim.

“Tolong bahannya nanti rangkap dua. Satu untuk kami majelis hakim dan tim penuntut umum,” tutur Oyong.

Terdakwa dr Benny dijerat JPU pidana Pasal 378 dan 372 yakni penipuan dan penggelapan. Terdakwa diadukan Surya Pranoto ke Polrestabes Medan karena 13 invoice dari 7 PO kopi yang dikirim ke PT SON Rp356,9 juta tidak kunjung dibayarkan.