Internasional

Tragedi 2 Staf Medis China Pengidap Corona: 1 Selamat, 1 Meninggal

PortalSumber.com – Dua profesional medis muda yang bekerja berjam-jam di garis depan wabah virus corona baru di Kota Wuhan, China pertama kali menderita demam. Dalam beberapa minggu, keduanya terbaring di tempat tidur rumah sakit dan dipasangi infus dan mesin oksigen.

Kedua ibu muda yang dikisahkan berikut ini tidak memberi tahu anak-anak, mereka mengidap penyakit COVID-19 akibat virus corona baru. Mama bekerja keras untuk menyelamatkan orang sakit, kata anak-anak itu.

Sebaliknya, Deng Danjing dan Xia Sisi berjuang untuk tetap hidup ketika dirawat di rumah sakit yang sama tempat mereka bekerja. Mereka terbaring lemah karena demam dan sesak napas.

Dalam hitungan minggu, mereka telah beralih dari staf profesional medis yang sehat di garis depan epidemi di Kota Wuhan, China menjadi pasien corona dalam kondisi kritis. Dunia masih berjuang untuk sepenuhnya memahami virus baru tersebut beserta gejala, penyebaran, dan sumbernya.

Bagi sebagian orang, gejalanya bisa terasa seperti flu biasa. Bagi orang lain, itu adalah infeksi mematikan yang merusak paru-paru dan mendorong sistem kekebalan tubuh hingga bekerja berlebihan, bahkan menghancurkan sel-sel sehat.

Perbedaan antara nasib hidup dan mati dapat tergantung pada kondisi kesehatan pasien, usianya, dan aksesnya ke perawatan medis, meskipun tidak selalu demikian.

Gejala: Serangan Virus Dan Rawat Inap

Dr. Xia terjangkit corona dan meninggal tak lama setelah dirawat.
Foto: The NY Times

Gejalanya terjadi tiba-tiba. Dr. Xia mengakhiri shift malamnya pada 14 Januari 2020 ketika dia dipanggil kembali untuk merawat seorang pasien suspek corona, pria berusia 76 tahun. Dr. Xia sering mampir ke kamarnya untuk memeriksa pria itu.

Lima hari kemudian, Dr. Xia mulai merasa tidak sehat. Dia merasa lelah dan memutuskan tidur siang selama dua jam di rumah, lalu memeriksa suhunya: 38,9 derajat Celcius. Dadanya terasa sesak.

Beberapa minggu kemudian pada awal Februari 2020, Deng sang perawat sedang bersiap untuk makan malam di kantor rumah sakit ketika ia tiba-tiba merasa mual ketika melihat makanan.

Dia mengesampingkan perasaan itu dan mengira lelah karena bekerja. Deng telah mengunjungi keluarga pasien konfirmasi corona selama awal wabah dan mengajari mereka cara-cara untuk mendisinfeksi rumah mereka.

Setelah memaksa makan, Deng pulang ke rumah untuk mandi. Masih merasa pusing, dia pun tidur siang. Ketika bangun, suhu tubuhnya menjadi 37,7 derajat Celsius. Demam adalah gejala paling umum dari penyakit COVID-19 yang terlihat pada hampir 90 persen pasien.

Sekitar seperlima orang yang terinfeksi mengalami sesak napas, seringkali termasuk batuk dan hidung tersumbat. Banyak penderita juga mengaku merasa lesu. Dr. Xia dan Deng bergegas menemui dokter.

Pemindaian dada menunjukkan kerusakan pada paru-paru mereka, tanda dari virus corona yang muncul pada setidaknya 85 persen pasien, menurut sebuah penelitian. Secara khusus, CT Scan Deng menunjukkan apa yang disebut dokter sebagai kekeruhan ground-glass (ground-glass opacities) pada paru-paru kanan bawahnya, yakni bintik-bintik kabur yang menandakan cairan atau peradangan di sekitar saluran udara.

Rumah sakit itu tidak memiliki cukup ruang, jadi Deng masuk ke sebuah hotel untuk menghindari infeksi kepada suami dan putrinya yang berusia 5 tahun. Deng terus berkeringat sepanjang malam. Pada satu titik, betisnya mengalami kejang. Di pagi hari, dia pun dirawat di rumah sakit.

Tenggorokannya menjalani uji usap (swab) untuk tes genetik, yang memastikan dia telah terjangkit virus corona baru. Kamar Deng di bangsal staf yang baru dibuka itu kecil dengan dua dipan dan nomor untuk masing-masing. Deng berada di tempat tidur 28.

Teman sekamarnya adalah seorang rekan yang juga telah didiagnosis tertular virus. Di Rumah Sakit Jiangbei yang berjarak 29 kilometer, Dr. Xia mengalami sesak napas. Dia ditempatkan di ruang isolasi serta dirawat oleh dokter dan perawat yang mengenakan pakaian pelindung dan kacamata keselamatan. Ruangan itu terasa dingin.

Perawatan: Hari 1. Rawat Inap

Dr. Xia dan sejumlah perawat lain di China terpaksa menghembuskan napas terakhir di tangan corona.
Foto: The NY Times

Ketika Deng masuk ke rumah sakit, dia berusaha tetap ceria. Dia mengirimkan sms kepada suaminya, mendesaknya untuk mengenakan masker bahkan di rumah, dan memintanya membersihkan semua mangkuk dan sumpit mereka dengan air mendidih atau membuangnya.

Suaminya juga mengirim foto salah satu kucing mereka di rumah dan mengaku menunggunya pulang.

“Saya kira (rawat inap) akan memakan waktu 10 hari, sekitar setengah bulan. Jaga dirimu baik-baik,” jawab Deng.

The New York Times melaporkan, hingga kini belum diketahui ada obat untuk COVID-19, nama resmi penyakit akibat virus corona baru. Jadi, para dokter mengandalkan campuran obat-obatan lain, sebagian besar obat antivirus, untuk meringankan gejala.

Dokter yang merawat Deng memberi resep arbidol, obat antivirus yang digunakan untuk mengobati flu di Rusia dan China; Tamiflu, obat flu lain yang lebih populer secara internasional; dan Kaletra, obat HIV yang dianggap memblokir replikasi virus corona.

Deng minum setidaknya 12 pil sehari, selain obat-obatan tradisional China. Terlepas dari optimismenya, Deng semakin lemah. Ibunya mengirimkan makanan buatan rumah di luar bangsal, tetapi dia tidak punya nafsu makan.

Untuk memberinya makan, seorang perawat harus datang pukul 8.30 setiap pagi untuk menghubungkannya ke infus yang berisi nutrisi. Selang lainnya memompa antibodi ke dalam aliran darah Deng, selain obat antivirus yang harus dikonsumsinya. Dr. Xia juga sakit parah, tetapi tampaknya perlahan mampu melawan infeksi itu.

Demamnya mereda setelah beberapa hari dan ia mulai bernapas dengan lebih mudah setelah dihubungkan dengan ventilator. Semangatnya pun meningkat. Pada 25 Januari 2020, dia memberi tahu rekan-rekannya, dia sudah mulai pulih.

Pada awal Februari 2020, Dr. Xia bertanya kepada suaminya, D Shilei yang juga seorang dokter, apakah sang suami meyakini Dr. Xia bisa segera mengakhiri terapi oksigen.

“Santai saja. Jangan terlalu cemas,” jawab Dr. Wu di WeChat. Sang suami mengatakan kepada Dr. Xia, ventilator mungkin bisa dilepas pada minggu berikutnya.

“Saya terus mengira akan membaik segera,” jawab Dr. Xia.

Ada alasan untuk percaya Dr. Xia benar-benar tengah membaik. Bagaimanapun, sebagian besar pasien corona terbukti sembuh. Dr. Xia kemudian dites negatif dua kali untuk korona. Dia mengaku kepada ibunya, dia diharapkan akan keluar pada 8 Februari.

Penurunan Kondisi: 4-16 Rawat Inap

Salah satu obat yang diberikan pada pasien corona.
Foto: The NY Times

Menjelang hari keempat Deng di rumah sakit, dia tidak bisa lagi berpura-pura ceria. Dia muntah, mengalami diare, dan menggigil tanpa henti. Demamnya melonjak menjadi 38,5 derajat.

Pada 5 Februari 2020 pagi, dia terbangun dari tidur yang gelisah dan mendapati obatnya tidak bekerja untuk menurunkan suhu tubuhnya. Deng pun menangis dan mengaku telah diklasifikasikan mengidap penyakit kritis.

Keesokan harinya, Deng muntah tiga kali sampai dia hanya bisa meludahkan buih-buih putih. Dia merasa berhalusinasi. Indra penciuman dan perasanya tidak berfungsi, sementara detak jantungnya melambat menjadi sekitar 50 detak per menit.

Melalui panggilan telepon, ibu Deng berusaha meyakinkannya, dia masih muda dan sehat, sehingga virus itu akan berlalu seperti pilek. Namun, Deng takut akan situasi sebaliknya.

“Saya merasa seakan berada di ambang kematian,” tulisnya di unggahan media sosial dari ranjang rumah sakit keesokan harinya.

China mendefinisikan pasien yang sakit kritis sebagai seseorang dengan kegagalan pernapasan, shock, atau gagal organ. Sekitar 5 persen pasien yang terinfeksi menjadi kritis di China, menurut salah satu penelitian terbesar hingga saat ini mengenai kasus corona. Dari jumlah tersebut, 49 persen pasien meninggal. Angka-angka itu dapat berubah sekali lagi begitu kasus-kasus diperiksa di seluruh dunia.

Sementara Dr. Xia tampak mulai pulih, dia masih takut mati. Uji corona bisa saja salah dan hasil negatif tidak selalu berarti pasien telah sembuh. Dia meminta ibunya untuk berjanji: Bisakah orang tuanya merawat putranya yang berusia 2 tahun jika dia tidak selamat?

Berharap untuk menghilangkan kegelisahan Deng dengan humor, ibunya Jiang Wenyan menegurnya, “Dia putramu sendiri. Apakah kamu tidak ingin membesarkannya sendiri?”

Dr. Xia juga mengkhawatirkan suaminya. Melalui percakapan video, Dr. Xia mendesak suaminya untuk memakai peralatan pelindung di rumah sakit tempat dia bekerja.

“Dia bilang dia akan menungguku kembali dengan selamat,” kata suaminya, “lalu pergi ke garis depan wabah lagi bersamaku ketika dia pulih.”

Suaminya selanjutnya mendapat panggilan telepon. Kondisi Dr. Xia tiba-tiba memburuk. Pada 7 Februari 2020 dini hari, suaminya bergegas ke ruang gawat darurat karena jantung Dr. Xia berhenti berdetak.

Pemulihan: Hari 17 Rawat Inap

Dalam kebanyakan kasus, tubuh manusia akan memperbaiki dirinya sendiri. Sistem kekebalan menghasilkan cukup antibodi untuk membersihkan virus, sehingga pasien pun pulih.

Pada akhir minggu pertama Deng di rumah sakit, demamnya telah mereda. Dia bisa makan makanan yang dikirimkan ibunya. Pada 10 Februari 2020 ketika selera makannya kembali, dia mencari foto-foto sate secara online dan mengunggahnya dengan penuh harapan di media sosial.

Pada 15 Februari 2020, hasil tes usap tenggorokannya kembali negatif virus. Tiga hari kemudian, Deng dites negatif lagi dan diputuskan bisa pulang.

Deng bertemu ibunya sejenak di pintu masuk rumah sakit. Kemudian, karena Wuhan tetap mengalami penguncian wilayah tanpa adanya layanan taksi atau angkutan umum, dia berjalan pulang sendirian.

“Saya merasa seperti burung kecil. Kebebasanku telah kembali,” kenangnya.

Deng harus melakukan isolasi mandiri di rumah selama 14 hari. Suami dan putrinya tinggal bersama orang tuanya. Di rumah, Deng membuang pakaiannya yang telah dia kenakan sepanjang waktu di rumah sakit.

Sejak saat itu, Deng menghabiskan waktu dengan bermain bersama kucing-kucingnya dan menonton televisi. Dia bercanda, dia merasa bagaikan pensiun dini. Dia melakukan latihan pernapasan dalam setiap hari untuk memperkuat paru-parunya dan batuknya telah mereda.

Pemerintah China telah mendesak para pasien yang pulih untuk menyumbangkan plasma, yang menurut para ahli mengandung antibodi yang dapat digunakan untuk mengobati penderita. Deng menghubungi bank darah setempat segera setelah pulang dari rumah sakit. Deng berencana untuk kembali bekerja segera setelah rumah sakit mengizinkannya.

“Bangsa ini telah menyelamatkan saya. Saya yakin saya bisa membalas budi kepada bangsa.”

Kematian: Hari 35 Rawat Inap

Deng sembuh setelah dirawat dengan baik oleh rumah sakit China.
Foto: The NY Times

Setelah pukul 3 pagi pada 7 Februari 2020, Dr. Xia dilarikan ke unit perawatan intensif. Para dokter pertama-tama kali mengintubasinya. Presiden rumah sakit kemudian dengan panik memanggil beberapa ahli dari seluruh kota, termasuk Dr. Peng Zhiyong, kepala departemen perawatan kritis di Rumah Sakit Zhongnan.

Mereka memanggil setiap rumah sakit besar di Wuhan untuk meminjam oksigenasi membran ekstrakorporeal atau Ecmo, mesin untuk membantu tubuh Dr. Xia melakukan pekerjaan jantung dan paru-parunya.

Jantung Dr. Xia akhirnya mulai berdetak lagi. Namun, infeksi di paru-parunya terlalu parah dan akhirnya gagal berfungsi. Otaknya kekurangan oksigen dan menyebabkan kerusakan permanen. Ginjalnya segera berhenti berfungsi dan para dokter harus melakukan dialysis terhadap Dr. Xia setiap saat.

“Otak berfungsi sebagai pusat kendali,” tandas Dr. Peng. “Dr. Xia tidak bisa memerintahkan organ-organ tubuhnya lainnya, sehingga organ-organ itu akan gagal bekerja. Itu hanya masalah waktu.”

Dr. Xia pun mengalami koma dan meninggal dunia pada 23 Februari 2020. Dr. Peng tetap merasa bingung tentang mengapa Dr. Xia meninggal setelah ia tampak membaik. Sistem kekebalan tubuh Dr. Xia, seperti halnya banyak petugas kesehatan, mungkin telah rusak akibat paparan penyakit secara terus menerus.

Mungkin saja dia menderita apa yang disebut oleh para ahli “badai sitokin”, ketika reaksi sistem kekebalan terhadap virus baru menenggelamkan paru-paru dengan sel darah putih dan cairan. Mungkin saja Dr. Xia meninggal karena organ-organ tubuhnya kekurangan oksigen.

Di rumah Dr. Xia, putranya Jiabao (namanya berarti harta yang tak ternilai) mengira ibunya masih bekerja. Ketika telepon rumah berdering, Jiabao mencoba meraihnya dari tangan neneknya dengan berteriak: “Mama, mama.”

Suami Dr. Xia, Dr. Wu, tidak tahu harus berkata apa kepada Jiabao. Dr. Wu sendiri tidak berdamai dengan kematian Dr. Xia. Mereka bertemu di sekolah kedokteran dan merupakan cinta pertama bagi satu sama lain. Mereka telah merencanakan untuk hidup hingga tua bersama.

“Saya sangat mencintainya,” tandas Dr. Wu.

“Dia kini sudah tiada. Saya tidak tahu harus berbuat apa di masa depan, saya hanya bisa bertahan hidup.”

Sumber: matamatapolitik.com