Artikel Daerah Ekonomi Nasional Trendings

GTPP Tak Cari Untung Beli Ribuan Paket Sembako

Portalsumber.com | Medan – Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) Riadil Akhir Lubis yang juga selaku Pusat Pengendali Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Sumut membantah pihaknya mencari keuntungan dari pembelian paket bantuan sembako seharga Rp225.000 per paket. Menurut dia, harga sembako per paket itu ditentukan berdasarkan hasil survei dan ketentuan dalam proses pengadaan barang jasa (PBJ).

“Insya Allah ini semua bisa dipertanggungjawabkan. Silahkan masyarakat mengawasinya. Paket bantuan sembako seharga Rp225.000/paket terdiri dari beras 10 kg, gula 2 kg, minyak makan 2 liter dan mi instan 20 bungkus. Harga Rp225.000 ini pembagiannya pertama didasarkan pembagian alokasi anggaran Rp300 miliar lebih kurang dibagi dengan jumlah kuota kabupaten/kota yaitu 1.321.426 KK dengan 4 item tadi. Harga Rp225.000 ini kita cari lah 4 item harga ini melalui harga survei, yang bersumber nilainya dari perkulakan, grosir, mall, eceran, pajak dan lain-lain, termasuk harga rujukan dari Dinas Perdagangan Sumut,” kata Riadil dalam penjelasannya kepada wartawan di Medan kemarin.

Menurut dia, pengadaan sembako ini bersumber dari APBD Provinsi Sumatera Utara, sehingga pengadaannya wajib melalui proses pengadaan barang dan jasa sebagaimana di atur dalam Perpres No. 16 Tahun 2018. Pengadaan sembako ini dinilai penting dalam menyikapi dampak sosial Covid-19 kepada masyarakat.

“Berdasarkan hasil survei kemudian diambil hargai rata-rata beras, gula, minyak makan dan mi instan. Di dalam harga Rp225.000 ini juga termasuk harga kepada perusahaan, yaitu untuk packaging atau kemasannya. Bukan seperti menenteng mi instan dalam jumlah sedikit atau satuan. Ini paket, harus ada proses pamaketan. Kemudian juga keuntungan perusahaan yang disesuaikan dengan peraturan yang berlaku dan harga yang wajar,” terangnya.

Kemudian, kata Riadil, dalam proses penyaluran kepada penerima manfaat diperlukan biaya pengangkutan ke daerah yang dituju, dan biaya tersebut telah masuk di dalamnya. Perusahaan juga harus sewa gudang untuk menyimpan sementara paket sembako karena jumlahnya mencapai ratusan ribu paket.

“Sebagai contoh, berbeda dengan membeli sebungkus mi instan di kedai. Kalau di kedai beli sebungkus kan bisa ditenteng. Dengan jumlah yang ratusan ribu gini apa bisa ditenteng? Makanya perlu sewa gudang. Kemudian ada juga biaya pengangkutan dari lokasi pembelian ke gudang mereka, kemudian ke kabupaten/kota. Jadi itu, tidak bisa diperbandingkan beli sebungkus di kedai, karena ada hal-hal yang harus ditanggung perusahaan packaging, keuntungan perusahaan, sewa gudang dan pengangkutan, termasuk risiko lain yang harus ditanggung, misalnya dalam proses pengiriman dan kerusakan bahan pokok,” jelas Riadil.

Adanya biaya ke perusahaan itu yang membuat harga paket bantuan sembako berbeda dengan harga di pasaran. ”Jadi tidak bisa diperbandingkan. Insya Allah ini semua bisa dipertanggungjawabkan. Silakan masyarakat mengawasinya. Atau memberikan masukan-masukan. Jadi itu penjelasannya dari harga satu paket Rp225.000, Yang pasti, jangan ada satupun masyarakat calon penerima tidak mendapatkan sembako. Mari kita kawal bersama. Jika terjadi ada warga yang belum mendapatkan paket sembako, silahkan melapor ke pemerintah setempat, atau Kepala Lingkungan/kepala desa/Lurah/Camat” dan diminta kepada Kabupaten/kita untuk bisa mengawal dan menyikapinya,” ujar Riadil.

(sumber: mediasumutku.com)